Sarasehan Doktor KAHMI Kepri Dorong Riset Jadi Prioritas Pembangunan Monumen Bahasa

oleh -271 Dilihat
Ketua KAHMI Provinsi Kepulauan Riau, Dr. Suryadi. Foto: Ist
Ketua KAHMI Provinsi Kepulauan Riau, Dr. Suryadi. Foto: Ist

TANJUNGPINANG, sinarsiber.com – Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Provinsi Kepulauan Riau menilai pembangunan Monumen Bahasa di Pulau Penyengat harus dibarengi dengan penguatan riset, penelitian, dan publikasi ilmiah agar warisan intelektual Raja Ali Haji tidak berhenti sebagai simbol sejarah semata.

Gagasan tersebut akan menjadi salah satu pembahasan utama dalam Sarasehan Doktor KAHMI Kepri yang mengangkat isu strategis pembangunan kebudayaan Melayu.

Ketua KAHMI Provinsi Kepulauan Riau, Dr. Suryadi, mengatakan pembangunan Monumen Bahasa merupakan langkah strategis untuk memperkuat identitas Kepulauan Riau sebagai tanah kelahiran bahasa Indonesia.

Namun, menurutnya, pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan pembangunan ekosistem ilmu pengetahuan.

“Kami mendukung pembangunan Monumen Bahasa sebagai simbol penghormatan terhadap jasa Raja Ali Haji dan Pulau Penyengat.

Namun, pembangunan kebudayaan tidak boleh berhenti pada bangunan fisik. Harus ada investasi yang berkelanjutan untuk riset, penelitian, dan publikasi ilmiah agar warisan intelektual Raja Ali Haji terus hidup dan berkembang,” ujarnya.

Baca jugahttps://sinarsiber.com/sinergi-dan-kolaborasi-musda-iv-kahmi-kota-tanjungpinang-resmi-dibuka/

Founder dan Executive Director Raja Ali Haji Research Network, Dr. Hos Arie Sibarani, menegaskan monumen hanya akan memiliki makna yang lebih luas apabila diikuti kebijakan yang mendorong lahirnya penelitian dan publikasi ilmiah secara berkelanjutan.

Menurutnya, Raja Ali Haji bukan sekadar tokoh sejarah atau pahlawan bahasa, tetapi juga pemikir besar yang gagasan-gagasannya tetap relevan dikaji dalam bidang bahasa, sastra, hukum, pemerintahan, etika, hingga konstitusionalisme.

“Monumen adalah simbol penghormatan, tetapi riset adalah cara menghidupkan warisan intelektual. Jangan sampai kita menghabiskan lebih dari seratus miliar rupiah untuk membangun monumen, sementara dukungan terhadap penelitian, publikasi ilmiah, penerjemahan karya Raja Ali Haji, dan pengembangan pusat kajian masih sangat terbatas.

Investasi pada ilmu pengetahuan akan memberikan manfaat yang jauh lebih panjang dibandingkan investasi pada bangunan semata,” katanya.

Ia mengusulkan agar Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mengalokasikan anggaran khusus untuk hibah penelitian, publikasi di jurnal nasional dan internasional, digitalisasi manuskrip Melayu, penerjemahan karya Raja Ali Haji ke berbagai bahasa dunia, serta penyelenggaraan konferensi ilmiah internasional secara berkala.

Menurut Hos Arie, kebijakan tersebut akan memperkuat posisi Pulau Penyengat, bukan hanya sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga sebagai pusat kajian dunia Melayu dan pemikiran Raja Ali Haji yang memiliki pengakuan internasional.

Sarasehan Doktor KAHMI Kepri diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis bagi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dalam menyusun kebijakan kebudayaan yang lebih komprehensif.

Rekomendasi tersebut diharapkan mampu menjadikan pembangunan Monumen Bahasa sebagai momentum untuk memperkuat tradisi riset, publikasi ilmiah, serta pengembangan ilmu pengetahuan berbasis warisan intelektual Raja Ali Haji.

“Peradaban besar tidak hanya dikenang melalui monumen yang megah, tetapi juga melalui gagasan yang terus diteliti, ditulis, dan diajarkan kepada dunia,” tutup Dr. Hos Arie Sibarani. (RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.