Indeks Potensi Radikalisme Tahun 2025 di Kepri Turun

oleh -430 Dilihat
Kegiatan Internalisasi Hasil Survei IPR Tahun 2025 bersama FKPT Kepri melalui rangkaian kegiatan Kajian Senin Kamis (KSK) Tahun 2026. Foto: Ist
Kegiatan Internalisasi Hasil Survei IPR Tahun 2025 bersama FKPT Kepri melalui rangkaian kegiatan Kajian Senin Kamis (KSK) Tahun 2026. Foto: Ist

TANJUNGPINANG, sinarsiber.com – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI mencatat nilai Indeks Potensi Radikalisme (IPR) tahun 2025 berada pada angka 13,1.

Angka ini relatif stabil jika dibandingkan tahun 2024 dan menurun dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 13,7.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pencegahan BNPT RI melalui Subkoordinator Penelitian dan Evaluasi BNPT, Teuku Fauzansyah, Kamis (18/06/2026) dalam kegiatan Internalisasi Hasil Survei IPR Tahun 2025 bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kepri melalui rangkaian kegiatan Kajian Senin Kamis (KSK) Tahun 2026.
“Hasil tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan program pencegahan yang adaptif dan berbasis bukti (evidence-based policy),” kata Teuku Fauzansyah.

Kegiatan tersebut bertujuan mendiseminasikan hasil survei sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme di Provinsi Kepri.

Teuku Fauzansyah menyampaikan Survei IPR merupakan instrumen strategis untuk memahami tingkat kerentanan masyarakat terhadap paham radikal dan menjadi dasar penyusunan kebijakan pencegahan yang lebih tepat sasaran.

“Survei IPR merupakan instrumen strategis yang dikembangkan BNPT untuk memahami dinamika kerentanan masyarakat terhadap paham radikal.

Serta sebagai dasar penyusunan kebijakan dan program pencegahan yang lebih tepat sasaran,” paparnya.

Sementara itu, Peneliti FKPT Kepri, Muhamaad Zaenuddin, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan terhadap 350 responden di Kota Batam, Kota Tanjungpinang, dan Kabupaten Bintan menggunakan metode wawancara tatap muka langsung.

Selain memetakan potensi radikalisme, penelitian juga mengukur tingkat pengenalan masyarakat terhadap BNPT dan FKPT serta perilaku masyarakat dalam mengakses konten keagamaan di ruang digital.

Tantangan utama pencegahan radikalisme saat ini, sambung Zaenuddin, adalah memperkuat kesadaran masyarakat terhadap keberagaman.

“Inti yang perlu diperkuat adalah kesadaran akan keberagaman. Masyarakat harus memahami bahwa perbedaan suku, agama, dan latar belakang adalah hal yang wajar.

Toleransi dan saling menghargai perbedaan menjadi kunci agar potensi radikalisme dapat diminimalkan,” terang Zaenuddin.

Sementara itu, Anggota Tim Reviu Survei IPR 2025, Lilik Purwandi, menegaskan tren IPR Kepri menunjukkan kondisi yang relatif terkendali.

Namun demikian, masih terdapat kelompok rentan yang perlu mendapatkan perhatian bersama, terutama perempuan, generasi muda, dan kelompok yang aktif di ruang digital.

“Kearifan lokal, pola asuh keluarga, wawasan kebangsaan, literasi digital, dan moderasi beragama merupakan faktor penting yang perlu diperkuat agar masyarakat memiliki daya cegah, daya tangkal, dan daya lawan terhadap radikalisme dan terorisme,” kata Lilik Purwandi.

Ia juga menambahkan bahwa salah satu pintu masuk utama radikalisme adalah sikap eksklusif dan intoleran.

Oleh karena itu, pencegahan perlu dilakukan melalui penguatan wawasan kebangsaan, integrasi nilai toleransi dalam pendidikan, pemanfaatan ruang digital secara positif, serta pendampingan aktif terhadap generasi muda di lingkungan sekolah dan keluarga.

Melalui kegiatan tersebut, BNPT dan FKPT Kepri menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam memperkuat ketahanan masyarakat terhadap paham radikal.

Hasil Survei IPR Tahun 2025 diharapkan tidak berhenti sebagai laporan statistik semata, melainkan menjadi dasar penyusunan rekomendasi kebijakan, program edukasi.

Serta penguatan literasi digital dan kearifan lokal yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Kepri.(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.