TANJUNGPINANG, Sinarsiber.com – Senyum manis Muhammad Affan langsung menyambut para pengunjung Ruang Baca Anak, Perpustakaan Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi, Jumat (10/04/2026).
Ini adalah pekan terakhirnya sebagai siswa magang di perpustakaan milik Pemerintah Provinsi Kepri. Pekan depan, dia sudah akan kembali ke sekolah.
“Sejak Januari. Besok Senin, dijemput guru,” ujar remaja yang akrab disapa Affan ini.
Memang sejak Januari lalu, ia Praktik Kerja Lapangan (PKL). Sebagai salah satu syarat pendidikannya di SLB Negeri 1 Tanjungpinang.
Affan adalah penyandang tuna daksa. Kondisi disabilitas fisik yang membuat penyandangnya mengalami keterbatasan gerak tubuh.
Namun kecerdasan dan kemampuan nalarnya tidak jauh berbeda dengan remaja lainnya.
Bicaranya cukup fasih dan mudah dimengerti untuk penyandang tuna daksa. Ia juga dapat diajak berbicara tentang banyak hal tanpa kesulitan.
Affan juga mampu melaksanakan tugasnya sebagai siswa magang dengan baik. Bahkan sepertinya jiwa melayani masyarakat mengalir dalam darahnya.
Ia menikmati dan menyukai prosesnya selama magang, yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB. Rutinitas pagi ia mulai dengan merapikan buku.
Setiap buku, ia letakan kembali ke tempatnya sesuai kode.
Lalu lanjut membereskan alat peraga yang biasa digunakan oleh para pengunjung anak-anak. Setelah itu, ia dengan sabar menunggu dan melayani setiap pengunjung.
“Selamat datang. Silahkan masuk,” Affan membukakan pintu Ruang Baca Anak, setiap kali ada pengunjung yang masuk.
Ia juga fasih melayani pengunjung yang menanyakan buku, sampai yang mengajak ngobrol.
Remaja berusia 18 tahun ini sangat senang diajak bercerita. Dia tanpa ragu menceritakan cita-citanya untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi.
Ia ingin bersekolah di Padang, Sumatera Barat. Menurutnya di sana ada sekolah khusus untuk anak-anak sepertinya.
Affan tak takut harus merantau jauh. Meninggalkan orangtua dan kedua adiknya. Karena ia sadar, mimpi besarnya memang harus diperjuangkan.
Ia ingin, kelak dapat kembali ke almamaternya di SLB Negeri 1 Tanjungpinang sebagai guru.
“Mau jadi guru komputer,” ujar Affan.
Sulung dari tiga bersaudara ini berharap, dari 1212 beasiswa yang diberikan oleh Gubernur Kepri, ada kuota khusus untuk siswa sepertinya, yang memiliki kebutuhan khusus, namun ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.
Apalagi ayahnya bekerja serabutan sebagai buruh bangunan. Sedangkan ibunya setiap hari menjadi ojek bagi anak sekolah. Ibunya pula yang setiap hari mengantar dan menjemput Affan.
Affan juga berharap, Pemprov Kepri menambah lagi kuota penerimaan CPNS maupun P3K dari jalur kebutuhan khusus.
Karena Affan ingin, anak-anak berkebutuhan khusus dapat ikut bersaing di dunia kerja dan membangun Kepulauan Riau.
Apalagi kini setelah ia merasakan dunia kerja melalui program magang, ia merasakan pengalaman baru.
Ia merasa diterima dengan baik oleh para pegawai di Perpustakaan Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi, bisa bertemu dengan banyak orang baru dan belajar hal baru.
Senin nanti, ia sudah akan dijemput oleh gurunya untuk kembali ke sekolah. Tapi pengalaman magang ini, akan ia simpan di hati sebagai salah satu lembaran indah dalam hidupnya. (RLS/RED)






